Potensi Pengembangan Kakao


Berdasarkan data International Cocoa Organization (ICCO), pertumbuhan permintaan kakao di dunia adalah sebesar 4,8%. Permintaan biji kakao dunia pada tahun 2014 diperkirakan sebanyak 5.283.000 ton dengan permintaan terbesar berasal dari Eropa sebanyak 2.222.000 ton dan permintaan dari Amerika sebanyak 1.301.000 ton, dari Asia sebanyak 989.000 ton, dan dari Afrika 770.000 ton. Dengan tingkat pertumbuhan permintaan biji kakao dunia sebesar 4,8% dapat dipahami bahwa peluang ekspor biji kakao masih sangat terbuka. Indonesia termasuk tiga negara terbesar produsen kakao dunia, dimana pada tahun 2011 ekspor biji kakao Indonesia mencapai 588.233 ton per-tahun. Dalam rentang waktu dari 2007 2011 pertumbuhan ekspor biji kakao Indonesia adalah sebesar 4% per-tahun. Dengan tingkat pertumbuhan tersebut dan mempertimbangkan permintaan dunia seperti dijelaskan di atas dapat diperkirakan permintaan ekspor biji kakao Indonesia pada masa-masa yang akan datang akan lebih prospektif.

Dalam upaya menyambut terbukanya potensi permintaan kakao sebagaimana dijelaskan di atas, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Mamuju merencanakan pengembangan tanaman budidaya kakao di Kabupaten Mamuju. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Mamuju adalah dengan melakukan perluasan lahan tanam untuk budidaya kakao. Potensi pengembangan lahan tanam di Kabupaten Mamuju relatif besar karena di Kabupaten Mamuju tersedia potensi lahan seluas 13.530,49 ha yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Mamuju. Dengan adanya pengembangan lahan tersebut diharapkan Kabupaten Mamuju dapat meningkatkan jumlah produksi tanaman budidaya kakao pada masa-masa yang akan datang.

Investasi pengembangan budidaya kakao di Desa Bunde ditunjang dengan sarana dan prasarana yang tersedia. Jalan Trans-Sulawesi merupakan jalan utama arus barang dan jasa antar wilayah maupun di dalam wilayah Desa Bunde. Di samping itu, fasilitas angkutan darat di Kabupaten Mamuju telah tersedia, seperti Terminal Angkutan Darat Regional di Simbuang yang melayani jalur Antar-Kota Antar-Propinsi dan Antar-Kota Dalam Propinsi, Terminal Mamuju di Karema untuk melayani angkutan kota dan desa. Pelayanan publik dan komersial dapat dilayani dengan adanya beberapa pelabuhan yaitu pelabuhan Ferry yang melayani Mamuju Samarinda dan Balikpapan yang dilayani 2 (dua) kapal ferry dengan volume penyeberangan setiap hari. Pelabuhan Samudra Belang-Belang di Kalukku yang melayani angkutan komersial berbagai komoditi yang akan disalurkan ke luar wilayah. Lintasan pelayaran menuju Kalimantan, Jawa, dan Bali, serta secara regional Sulawesi seperti lintasan Makassar Pare-Pare Mamuju Pasangkayu, Palu, dan Manado telah tersedia di pelabuhan laut dan di pelabuhan rakyat di sepanjang Pantai Mamuju. Kabupaten Mamuju juga sudah memiliki satu bandar udara yaitu Bandar Udara Tampa Padang. Selain itu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) Mamuju sudah menghasilkan listrik sebanyak 56.838.651 KWH.

Perhitungan analisis kelayakan usaha tani budidaya kakao dilakukan berdasarkan asumsi di mana kebutuhan investasi untuk mengembangkan budidaya kakao di Kabupaten Mamuju diperkirakan sebesar Rp 195 milyar untuk setiap 10.000 ha lahan tanam; dengan Internal Rate of Return (IRR) diperkirakan sebesar 34,64% yang lebih besar dari suku bunga 12% per-tahun, dan Payback Periode sekitar 8 tahun (7,8 tahun).
Sumber Data : Badan Koordinasi Penanaman Modal